Diabetes Tipe Dua Hantui Kaum Pekerja Indonesia

Berita Nusantara – Diabetes tipe dua mulai menghantui para pekerja di Indonesia. Penyakit kronis ini pun telah menyerang usia produktif atau kaum pekerja, yang ditandai dengan semakin mudanya usia pengidap.

Menurut ahli yang tidak jarang menangani diabetes mengungkapkan banyak mendapati kaum pekerja usia produktif yang mengidap diabetes. Penyakit ini ditandai dengan tingginya gula darah atau di atas 125 mg/dL. Kalau telah terkena diabetes, penyakit ini tak dapat disembuhkan dan dapat menimpulkan komplikasi di komponen tubuh lain.

“Umur penderita diabetes ragam dua telah semakin muda. Sebelumnya terjadi pada orang dewasa. Tetapi, beberapa tahun terakhir makin banyak ditemukan pada usia dewasa muda atau 30 tahunan,” kata Kepala Divisi Metabolik Endokrin Departemen Penyakit Dalam RSCM-FKUI Dante Saksono dalam peringatan Hari Diabetes Sedunia yang digelar Tropicana Slim di Jakarta, Minggu (11/11).

Kreatif yang sama juga disampaikan dokter ahli penyakit dalam Suharko Soebardi. Menurutnya, faktor gaya hidup dan lingkungan yang tak sehat di kalangan para pekerja membikin penyakit diabetes semakin cepat berkembang.

Lihat juga: Menuntaskan Diabetes Akut dengan Diet Vegan

“Bahaya kian besar memang di usia 40 tahun keatas. Tetapi faktanya di klinik atau rumah sakit telah kami temui di bawah usia yang demikian,” ucap Suharko.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang baru saja dirilis menonjolkan prevalensi penyandang diabetes naik menjadi 8,5 persen dari 6,9 persen pada Riskesdas 2013. Di Agen Tangkas, yang mayoritas yakni kaum pekerja, prevalensi diabetes menempuh 12,8 persen. Artinya, satu dari delapan orang di Jakarta yakni penderita diabetes.

Dante menerangkan rutinitas pekerja yang berprofesi dari pagi sampai malam membikin mereka cenderung melupakan hidup sehat seperti berolahraga dan juga makan-makanan dengan nutrisi yang setara. Kurang berolahraga dan kelebihan berat badan yakni salah satu faktor risiko yang menyebabkan diabetes.

“Namun paling susah itu olahraga di Jakarta sebab trek macet, pergi patut pagi dan pulang malam. Tetapi, ini patut lantas diantisipasi,” ucap Dante.

Dante memberi saran agar kaum pekerja lebih banyak melaksanakan kesibukan fisik dan berolahraga agar dapat mengurangi risiko diabetes. Diawali fisik itu, kata Dante, dapat dimulai dengan simpel seperti memperbanyak jalan kaki dan naik turun tangga. Risiko diabetes juga dapat diturunkan dengan memakai pola makan yang sehat dan setara.

“Atasi dengan memilih makanan yang sehat dan mempertahankan berat badan. Makanya, jangan malas untuk kesibukan,” ujar Dante.

Awal gaya hidup tak sehat, risiko diabetes juga meningkat pada orang yang memiliki garis keturunan diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan mengisap rokok.

“Itu semua adalah faktor resiko, Hingga semua yang punya faktor risiko yang banyak lebih besar kemungkinannya terkena diabetes,” ujar Suharko.

Dokter di RSCM ini memberi saran untuk menghindari atau mengurangi faktor risiko hal yang demikian agar terhindar dari diabetes. Hari Diabetes Sedunia diperingati setiap 14 November. (ptj/ayp)